Sabtu, 04 Mei 2019

Ketika Tutor Les Privat di PHP, Rasanya Juga Sakit

Oleh : Ayunda Fitri

Jam setengah 4 sore saya termenung sendirian di teras rumah, sudah dandan rapi bawa tas pula tapi mengurungkan niat untuk berangkat. Sebab baru saja saya mendapatkan wa massage yang isinya, Maaf mbak hari ini lesnya libur, diganti minggu depan saja. Benar tebakan kalian, wahai pembaca yang budiman. Saya adalah tutor les privat mapel MIPA untuk SD-SMA.
Ditengah deru gelombang informasi pilpres yang tiada habis dan semakin seru. Ijinkanlah saya menulis sesuatu yang berbeda. Sisi lain dari menjalani profesi sebagai tutor les privat yang tidak pernah diliput media. Sesuatu hal yang sering dilupakan banyak orang. Apalagi ini menyoal tutor les privat yang mana, siapapun presidennya tidak akan berdampak apa-apa. Kok sampai berharap kesejahteraan meningkat, lha wong tarif les naik saja susah dihayalkan.
Mungkin bagi sebagian teman lain yang juga berprofesi sebagai tutor les privat pernah merasakannya. Yakni rasa kecewa, sebel dan sedih yang tak tertanggungkan sebab les dibatalkan mendadak dan sepihak oleh orang tua wali murid maupun si murid sendiri. Alhasil kalau sudah seperti ini, hanya bisa ngedumel, Asyemikkk di PHP bocah cilik. Jadi begitulah pemirsah, fenomena PHP tidak hanya melanda dunia online shop saja tetapi juga banyak ditemukan di dunia les privat.
Ngedumel itu bakal lebih parah kalau pembatalan sepihak dilakukan 5 menit sebelum sang tutor les berangkat. Karepe ki piye lho… padahal untuk membuat si murid mendapatkan jadwal les hari itu saja harus menggeser dan menolak murid-murid yang lain. Kan sakit juga diginiin… sebenarnya beberapa bimbingan belajar tempat tutor-tutor bernaung banyak yang menerapkan pembatalan maksimal 3 jam sebelum les dimulai, jika pembatalan dilakukan sangat mepet dengan jadwal les maka tetap dikenakan membayar separuh harga atau bahkan penuh. Tapi ya, emang orang tua murid pasti tidak mau tidak les tapi tetap bayar. Kadang disini saya juga merasa empati dan tidak tega dengan orang tua murid, tapi kok ngeselin juga ya.
Saya sering mendapati kejadian PHP itu, bahkan saya pernah menunggu si murid di tempat les selama satu jam namun si murid tidak kunjung datang. Memang begitulah tantangan yang harus dihadapi oleh tutor les privat sebab berjalan di lembaga non formal yang sering diremehkan orang. Di satu sisi tekanan pendidikan yang semakin sulit dan PR yang semakin banyak membuat orang tua harus mencarikan tutor les privat untuk anaknya namun tidak kunjung mendapatkan tutor. Di sisi lain terdapat banyak penipuan yang mengatasnamakan les privat yang memanfaatkan orang tua wali murid dengan membayar di awal namun tutor tidak pernah datang ke rumah. Di sisi lain lagi, ada banyak tutor les yang rajin datang namun ternyata setelah sampai di TKP les dibatalkan tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Disini saya merasa sedih.

sumber gambar : pontianak.tribunnews.com

Memang menjalani profesi sebagai tutor les privat baik dibawah naungan lembaga maupun menjalankan sendiri harus banyak bersabar tidak ubahnya tutor di sekolah. Semakin hari profesi tutor les privat semakin dibutuhkan terlebih dengan adanya full day school dan penerapan kurikulum 2013 menjadi tantangan yang sangat besar sebab waktu mengajar les privat semakin sempit dan beban mata pelajaran semakin sulit. Kemampuan manajemen waktu sangat diperlukan, terlebih pintar membawa diri agar tidak ada pihak yang dirugikan. Lebih penting lagi, menjaga diri agar tidak rawan di PHP oleh pihak mitra. Pada bagian ini, menjadi tutor les privat harus pintar dalam memilih murid dan orang tua murid yang potensial serta tidak njengkeli. Termasuk yang rajin dan tidak mudah PHP pada tutor.
Setidaknya dengan tidak membatalkan les privat dengan mendadak, sudah membuat tutor les privat tidak ngedumel dan dihargai. Daripada ujung-ujungnya murid yang sudah nyaman belajar dengan si tutor tapi tutornya berhenti mendadak. Dengan alasan, sudah tidak sanggup di PHP terus dan berganti pekerjaan yang menghasilkan gaji secara pasti-pasti saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar