Film Sexy Killers, Sebuah Ajakan Untuk Lingkungan.
Oleh
: Ayunda Fitri
Akhir-akhir
ini publik semakin marak membicarakan film Sexy Killers. Siapa yang tidak tahu
Sexy killers?. Film dokumenter berdurasi 1 jam 28 menit itu bercerita dengan
sangat seksi, mengambil sudut pandang lain dari isu energi kotor, yakni
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan industri batu-bara. Sexy Killers telah
ditonton oleh 9500 penonton dalam 3 hari setelah diunggah melalui laman you tube Watchdoc Image, rumah produksi
yang menaungi pembuatannya.
Pengunggahan
film Sexy Killers di laman you tube
yang dapat diakses dengan mudah dan gratis semakin menggemparkan sebab diunggah
beberapa hari menjelang pemilu serentak 17 April 2019. Dalam filmnya,
diceritakan bagaimana oligarki tambang bekerja dan lingkaran hitam pengelolaan
batu-bara yang secara langsung maupun maupun tidak langsung menyeret nama-nama
yang bakal dicoblos warga Indonesia pada pemilu serentak tersebut. Terutama
pada calon presiden dan wakil presiden dari kedua paslon yang ternyata turut
terlibat dalam lingkaran hitam industri batu-bara dan energi di Indonesia.
Banyak pro dan kotra yang muncul, terutama isu ajakan untuk menjadi golput pada
pemilu serentak karena kecewa dengan paslon-paslon yang berkompetisi.
Aksi
golput setelah menonton film Sexy Killers tentu bukan perbuatan yang bijak. Film
tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat publik menjadi marah kemudian tidak
memilih. Film itu justru harus membuat publik menjadi marah dan menuntut.
Menuntut keadilan misalnya, menuntut penyelesaian masalah terutama pada korban
batu-bara serta PLTU, dan menyatakan kepada negara untuk melaksanakan
pembangunan secara lebih manusiawi, yang berkelanjutan, bukan atas nama proyek
dan keuntungan pihak tertentu yang selama ini seenak udelnya mengeruk bumi
Indonesia. Merekalah yang sesungguhnya merusak alam Indonesia, terlebih tanpa
tanggung jawab lingkungan dan sosial. Mereka mendapatkan keuntungan besar
dengan memaksakan ongkos lingkungan yang sangat murah. Mereka mengeruk tapi
tidak menutup lubang bekas tambang.
Banyak
influencer yang juga mengupload tanggapan terkait film ini, salah satunya stand up komedian Kemal Pahlevi dalam
akun you tubenya yang mengajak untuk
tidak golput. Selain isu pemilu, tentu ada banyak isu lain yang harus dibahas
dan digalang dukungannya kepada publik yang telah menonton film Sexy Killers,
seperti dukungan terhadap penolakan energi kotor batubara, moratorium ijin pertambangan
batu-bara, penolakan pada proyek PLTU baru, penggalakan penggunaan energi baru
terbarukan (EBT), perlindungan terhadap korban PLTU dan tambang, serta isu lingkungan
yang paling tidak tenar namun sulit diselesaikan, penutupan lubang tambang.
Penutupan
lubang tambang sendiri telah diatur dalam berbagai undang-undang dan menjadi
salah satu poin penting terbitnya ijin pertambangan. Penelitian terkait
penutupan lubang tambang melalui teknik reklamasi dan rehabilitasi lahan banyak
dilakukan. Teknologi reklamasi setiap tahunnya diuji untuk menghasilkan teknik
yang efektif dan efisien oleh para pakar dan praktisi dari perusahaan yang bertanggung
jawab terhadap lingkungan. Namun, seperti yang telah disebutkan dalam film sexy
killers, pelaksanaan reklamasi untuk menutup lubang tambang membutuhkan ongkos
yang sangat besar. Mengutip dari jurnal yang ditulis Syamsu Eka Rinaldi dari
Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumberdaya Alam Tahun 2016, ongkos
reklamasi lahan pascatambang batu-bara mencapai Rp. 32 Juta – Rp. 39 Juta
setiap hektarnya. Itulah mengapa energi batu-bara seolah-olah menjadi energi
yang murah, sebab tidak perlu mengeluarkan ongkos penutupan lubang tambang demi
mengeruk kekayaan.
sumber gambar : banjarmasin.tribunnews.com
Menurut
laporan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), sampai dengan November 2018, lubang
tambang di Provinsi Kalimantan Timur saja telah menelan korban sebanyak 30
Jiwa. Hal tersebut dikarenakan banyaknya lubang tambang yang tidak direklamasi
dan berlokasi di dekat pemukiman warga. Seharusnya tambang yang baik tidak
perlu sampai memakan korban jiwa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Fakta yang terjadi, justru malah semakin menyengsarakan masyarakat karena
perampasan ruang hidup baik secara langsung maupun perlahan. Namun yang pasti
penyengsaraan itu terjadi secara sistematis berkat birokrasi dan pemerintah
yang tidak pro rakyat, ijon politik, ongkos politik yang mahal dan kerakusan
segelintir konglomerat serta para kroninya, menciptakan oligarki tambang dan
lingkaran hitam industri batu-bara.
Pada
saat tulisan ini selesai ditulis, mungkin sebagian kita telah datang untuk
menggunakan hak pilih atau terlanjur golput. Seperti kata penyair, yang terjadi
biarlah terjadi, yang berlalu biarlah berlalu, pemilupun akan berlalu.
Tinggalkan tagar #2019gantipresiden ataupun #2019tetapjokowi. Mari membuat
tagar baru seperti #2019stopenergikotor, #2019tutuplubangtambang, atau #2019dukungebt,
serta bergerak menggalang dukungan untuk keadilan lingkungan. Film Sexy Killers
tidak mengajak untuk golput, namun mengajak untuk sadar dan mulai
berperan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar