Jam setengah 4 sore saya termenung
sendirian di teras rumah, sudah dandan rapi bawa tas pula tapi mengurungkan
niat untuk berangkat. Sebab baru saja saya mendapatkan wa massage yang isinya, Maaf
mbak hari ini lesnya libur, diganti minggu depan saja. Benar tebakan
kalian, wahai pembaca yang budiman. Saya adalah tutor les privat mapel MIPA
untuk SD-SMA.
Ditengah deru gelombang informasi
pilpres yang tiada habis dan semakin seru. Ijinkanlah saya menulis sesuatu yang
berbeda. Sisi lain dari menjalani profesi sebagai tutor les privat yang tidak
pernah diliput media. Sesuatu hal yang sering dilupakan banyak orang. Apalagi
ini menyoal tutor les privat yang mana, siapapun presidennya tidak akan
berdampak apa-apa. Kok sampai berharap kesejahteraan meningkat, lha wong tarif les naik saja susah
dihayalkan.
Mungkin bagi sebagian teman lain yang
juga berprofesi sebagai tutor les privat pernah merasakannya. Yakni rasa
kecewa, sebel dan sedih yang tak tertanggungkan sebab les dibatalkan mendadak
dan sepihak oleh orang tua wali murid maupun si murid sendiri. Alhasil kalau
sudah seperti ini, hanya bisa ngedumel, Asyemikkk
di PHP bocah cilik. Jadi begitulah pemirsah, fenomena PHP tidak hanya
melanda dunia online shop saja tetapi
juga banyak ditemukan di dunia les privat.
Ngedumel itu bakal lebih parah kalau
pembatalan sepihak dilakukan 5 menit sebelum sang tutor les berangkat. Karepe ki piye lho… padahal untuk
membuat si murid mendapatkan jadwal les hari itu saja harus menggeser dan
menolak murid-murid yang lain. Kan sakit juga diginiin… sebenarnya beberapa
bimbingan belajar tempat tutor-tutor bernaung banyak yang menerapkan pembatalan
maksimal 3 jam sebelum les dimulai, jika pembatalan dilakukan sangat mepet
dengan jadwal les maka tetap dikenakan membayar separuh harga atau bahkan
penuh. Tapi ya, emang orang tua murid pasti tidak mau tidak les tapi tetap
bayar. Kadang disini saya juga merasa empati dan tidak tega dengan orang tua
murid, tapi kok ngeselin juga ya.
Saya sering mendapati kejadian PHP
itu, bahkan saya pernah menunggu si murid di tempat les selama satu jam namun
si murid tidak kunjung datang. Memang begitulah tantangan yang harus dihadapi
oleh tutor les privat sebab berjalan di lembaga non formal yang sering
diremehkan orang. Di satu sisi tekanan pendidikan yang semakin sulit dan PR
yang semakin banyak membuat orang tua harus mencarikan tutor les privat untuk
anaknya namun tidak kunjung mendapatkan tutor. Di sisi lain terdapat banyak
penipuan yang mengatasnamakan les privat yang memanfaatkan orang tua wali murid
dengan membayar di awal namun tutor tidak pernah datang ke rumah. Di sisi lain
lagi, ada banyak tutor les yang rajin datang namun ternyata setelah sampai di
TKP les dibatalkan tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Disini saya merasa sedih.
sumber gambar : pontianak.tribunnews.com
Memang menjalani profesi sebagai tutor
les privat baik dibawah naungan lembaga maupun menjalankan sendiri harus banyak
bersabar tidak ubahnya tutor di sekolah. Semakin hari profesi tutor les privat
semakin dibutuhkan terlebih dengan adanya full
day school dan penerapan kurikulum 2013 menjadi tantangan yang sangat besar
sebab waktu mengajar les privat semakin sempit dan beban mata pelajaran semakin
sulit. Kemampuan manajemen waktu sangat diperlukan, terlebih pintar membawa
diri agar tidak ada pihak yang dirugikan. Lebih penting lagi, menjaga diri agar
tidak rawan di PHP oleh pihak mitra. Pada bagian ini, menjadi tutor les privat
harus pintar dalam memilih murid dan orang tua murid yang potensial serta tidak
njengkeli. Termasuk yang rajin dan tidak mudah PHP pada tutor.
Setidaknya dengan tidak membatalkan
les privat dengan mendadak, sudah membuat tutor les privat tidak ngedumel dan
dihargai. Daripada ujung-ujungnya murid yang sudah nyaman belajar dengan si tutor
tapi tutornya berhenti mendadak. Dengan alasan, sudah tidak sanggup di PHP
terus dan berganti pekerjaan yang menghasilkan gaji secara pasti-pasti saja.

