Selasa, 16 April 2019

Tanggapan terkait Film Sexy Killers


Film Sexy Killers, Sebuah Ajakan Untuk Lingkungan.

Oleh : Ayunda Fitri

Akhir-akhir ini publik semakin marak membicarakan film Sexy Killers. Siapa yang tidak tahu Sexy killers?. Film dokumenter berdurasi 1 jam 28 menit itu bercerita dengan sangat seksi, mengambil sudut pandang lain dari isu energi kotor, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan industri batu-bara. Sexy Killers telah ditonton oleh 9500 penonton dalam 3 hari setelah diunggah melalui laman you tube Watchdoc Image, rumah produksi yang menaungi pembuatannya.
Pengunggahan film Sexy Killers di laman you tube yang dapat diakses dengan mudah dan gratis semakin menggemparkan sebab diunggah beberapa hari menjelang pemilu serentak 17 April 2019. Dalam filmnya, diceritakan bagaimana oligarki tambang bekerja dan lingkaran hitam pengelolaan batu-bara yang secara langsung maupun maupun tidak langsung menyeret nama-nama yang bakal dicoblos warga Indonesia pada pemilu serentak tersebut. Terutama pada calon presiden dan wakil presiden dari kedua paslon yang ternyata turut terlibat dalam lingkaran hitam industri batu-bara dan energi di Indonesia. Banyak pro dan kotra yang muncul, terutama isu ajakan untuk menjadi golput pada pemilu serentak karena kecewa dengan paslon-paslon yang berkompetisi.
Aksi golput setelah menonton film Sexy Killers tentu bukan perbuatan yang bijak. Film tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat publik menjadi marah kemudian tidak memilih. Film itu justru harus membuat publik menjadi marah dan menuntut. Menuntut keadilan misalnya, menuntut penyelesaian masalah terutama pada korban batu-bara serta PLTU, dan menyatakan kepada negara untuk melaksanakan pembangunan secara lebih manusiawi, yang berkelanjutan, bukan atas nama proyek dan keuntungan pihak tertentu yang selama ini seenak udelnya mengeruk bumi Indonesia. Merekalah yang sesungguhnya merusak alam Indonesia, terlebih tanpa tanggung jawab lingkungan dan sosial. Mereka mendapatkan keuntungan besar dengan memaksakan ongkos lingkungan yang sangat murah. Mereka mengeruk tapi tidak menutup lubang bekas tambang.
Banyak influencer yang juga mengupload tanggapan terkait film ini, salah satunya stand up komedian Kemal Pahlevi dalam akun you tubenya yang mengajak untuk tidak golput. Selain isu pemilu, tentu ada banyak isu lain yang harus dibahas dan digalang dukungannya kepada publik yang telah menonton film Sexy Killers, seperti dukungan terhadap penolakan energi kotor batubara, moratorium ijin pertambangan batu-bara, penolakan pada proyek PLTU baru, penggalakan penggunaan energi baru terbarukan (EBT), perlindungan terhadap korban PLTU dan tambang, serta isu lingkungan yang paling tidak tenar namun sulit diselesaikan, penutupan lubang tambang.
Penutupan lubang tambang sendiri telah diatur dalam berbagai undang-undang dan menjadi salah satu poin penting terbitnya ijin pertambangan. Penelitian terkait penutupan lubang tambang melalui teknik reklamasi dan rehabilitasi lahan banyak dilakukan. Teknologi reklamasi setiap tahunnya diuji untuk menghasilkan teknik yang efektif dan efisien oleh para pakar dan praktisi dari perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Namun, seperti yang telah disebutkan dalam film sexy killers, pelaksanaan reklamasi untuk menutup lubang tambang membutuhkan ongkos yang sangat besar. Mengutip dari jurnal yang ditulis Syamsu Eka Rinaldi dari Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumberdaya Alam Tahun 2016, ongkos reklamasi lahan pascatambang batu-bara mencapai Rp. 32 Juta – Rp. 39 Juta setiap hektarnya. Itulah mengapa energi batu-bara seolah-olah menjadi energi yang murah, sebab tidak perlu mengeluarkan ongkos penutupan lubang tambang demi mengeruk kekayaan.

sumber gambar : banjarmasin.tribunnews.com



Menurut laporan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), sampai dengan November 2018, lubang tambang di Provinsi Kalimantan Timur saja telah menelan korban sebanyak 30 Jiwa. Hal tersebut dikarenakan banyaknya lubang tambang yang tidak direklamasi dan berlokasi di dekat pemukiman warga. Seharusnya tambang yang baik tidak perlu sampai memakan korban jiwa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Fakta yang terjadi, justru malah semakin menyengsarakan masyarakat karena perampasan ruang hidup baik secara langsung maupun perlahan. Namun yang pasti penyengsaraan itu terjadi secara sistematis berkat birokrasi dan pemerintah yang tidak pro rakyat, ijon politik, ongkos politik yang mahal dan kerakusan segelintir konglomerat serta para kroninya, menciptakan oligarki tambang dan lingkaran hitam industri batu-bara.
Pada saat tulisan ini selesai ditulis, mungkin sebagian kita telah datang untuk menggunakan hak pilih atau terlanjur golput. Seperti kata penyair, yang terjadi biarlah terjadi, yang berlalu biarlah berlalu, pemilupun akan berlalu. Tinggalkan tagar #2019gantipresiden ataupun #2019tetapjokowi. Mari membuat tagar baru seperti #2019stopenergikotor, #2019tutuplubangtambang, atau #2019dukungebt, serta bergerak menggalang dukungan untuk keadilan lingkungan. Film Sexy Killers tidak mengajak untuk golput, namun mengajak untuk sadar dan mulai berperan.